Sejak usia belasan tahun aku mulai menyadari ada hal yang kuanggap tak beres
dengan salah satu organ tubuhku. Alat vitalku rasanya tak imbang dengan
tinggi dan besar tubuhku.
Tadinya aku hanya bertanya-tanya pada diriku sendiri, hingga
suatu hari aku mengintip sahabatku kencing di toilet sekolah.
Kulihat Ricky sahabatku mempunya alat vital dua kali lipat
lebih besar dari punyaku. Maka sejak itu aku merasa malu untuk ke toilet
bersama, karena aku merasa punya kekurangan yang akan menjadi bahan gunjingan
teman-temanku lainnya.
Hadi, demikian aku biasa dipanggil, untuk ukuran tubuh aku
terbilang atletis dengan tinggi badan 178 cm dengan berat badan ideal.
Wajahkupun tidak buruk-buruk amat, terbukti sejak kelas 2 SMP aku sudah
dikerubuti banyak perempuan yang tertarik padaku.
Aku memang senang berganti-ganti pacar, namun hubungan
pacaran kami hanya sebatas peluk cium semata dan jika ada perempuan yang
mulai mengelus alat vitalku langsung kutepis tangannya dan segera memutuskan
hubungan pacaran kami.
Begitu terus hingga tak terhitung banyaknya pacar-pacarku.
Hingga suatu hari begitu lulus perguruan tinggi dan mendapatkan pekerjaan,
aku jatuh cinta betulan dengan seorang perempuan cerdas, terkesan tegas namun
mempunyai wajah melankolis.
Perempuan itu bernama Dema, teman sekantorku namun beda
bagian.
Setelah dapat menjerat hati Dema aku mulai berpikir untuk serius dan
menikahinya.
Tentu saja niat baikku ini disambut baik oleh keluargaku yang
juga pusing tujuh keliling melihat aku sering sekali bergant-ganti pacar.
Namun semakin keluargaku mendukungku, aku merasa makin bimbang dan tak
percaya diri karena keganjilan di alat vitalku yang teramat sangat mini ini.
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepalaku tentang
keunikan alat vitalku ini dan yang paling mendasar apakah aku bisa memuaskan
istriku dan apakah aku mampu memberinya anak dengan senjata mungilku ini.
Dengan menahan malu, kuutarakan kecemasanku pada Ricky
sahabatku semenjak kecil. Tak dinyana-nyana Ricky menawarkanku untuk
membesarkan alat vitalku dengan cara melalui suntik.
Wah, ini hal baru yang dapat merubah hidupku. Cemerlang benar
ide Ricky dan menyesal aku baru tahu bahwa ada metode suntik yang dapat
memberbesar alat vitalku dengan instant.
Tawaran Ricky meyakinkan sekali dengan mencontohkan beberapa
temannya yang berhasil memperbesar anunya dengan suntikan. Entah apa yang
disuntikkan tapi memang hasilnya meyakinkan. Burung teman Ricky berubah besar
hingga pulih kepercayaan dirinya, demikian iming-iming Ricky.
Berhari-hari kupikirkan sehingga dengan ketetapan hati demi
menyenangkan Dema, calon istriku, maka segera kudatangi ahli suntik burung
tersebut.
Dengan muka datar aku dimintanya membuka celana. Diamati alat
vitalku dengan seksama, dipegang sebentar kemuadian ia mengangguk-ngangguk
seraya mengatakan, “Wah, ini memang terlalu kecil, tak dapat hanya sekali
suntik, memerlukan beberapa kali suntikan agar dapat besar.”
Karena kadung ingin mempunyai alat vital besar, maka segera
kusetujui dengan tawaran suntiknya. Pertama kali dibalutnya alat vitalku
dengan kain basah yang ternyata cairan untuk anestesi lokal, sehingga ketika
disuntik tak terasa sakit.
Kemudian dari berbagai sisi disuntiknya alat vitalku dengan
cairan putih sehingga nampak mulai membesar. Wah, aku mulai kagum dengan alat
vitalku sendiri. Aku berterima kasih dan berjanji akan datang seminggu lagi.
Di rumah, kupandangi dan kuelus-elus jagoku yang nampak mulai
membesar. Aku mulai percaya diri sehingga tepat waktu yang dijanjikan aku
sudah tiba di rumah Pak Rusdi, ahli suntik memperbesar alat vital lelaki.
Suntikan kedua lebih sakit dan membuat alat vitalku memerah. Sampai rumah
rasa sakit itu makin terasa sehingga nyut-nyutan dan tidak segera hilang.
Segera aku minum penghilang rasa sakit, namun tak mempan,
bahkan alat vitalku mulai membengkak merah.
Esoknya kudatang Pak Rusdi dan bertanya tentang efek dari
suntikan yang kedua, tapi kata pak Rusdi hal tersebut memang sewajarnya dan
akan sembuh dengan sendirinya.
Aku hanya diberi obat penghilang sakit saja. Namun hingga
hari kelima alat vitalku makin sakit. Kena celana dalam saja sudah perih luar
biasa. Aku tak dapat berjalan, karena rasa nyeri luar biasa di selangkanganku.
Kulihat bentuk alat vitalku jadi tak karuan, menggelembung dan bengkak di
beberapa tempat. Mengerikan.
Aku segera dilarikan ke rumah sakit oleh keluarga untuk
mendapat bantuan medis. Dokter yang merawatku juga menyayangkan aku mengambil
jalan pintas guna membesarkan alat vitalku.
Setelah tiga hari aku di rumah sakit alat vitalku mulai
bernanah, sehingga aku memerlukan operasi untuk membuang cairan pembesar yang
disuntikkan ke organ vitalku tersebut.
Untung aku segera sembuh dengan bentuk alat vital yang tak
karuan. Sudah kecil, pletat pletot pula. Duh, menyesalnya aku.
Aku marah dan hanya bisa memaki-maki Pak Rusdi, tapi yang
kumaki sudah keburu menghilang tak meninggalkan jejak dari kliniknya. Rupanya
klinik tersebut hanya dikontrak sementara oleh Pak Rusdi yang hingga kini tak
diketahui lagi rimbanya.
Untuk lelaki yang ingin membesarkan alat vital, apalagi lewat
suntik berpikir ulanglah. Ternyata setelah menikah dengan Dema, jagoan
mungilku ini mampu menghasilkan dua anak yang lucu dengan foreplay yang baik
untuk memuaskan istriku (Dikisahkan oleh Hadi untuk www.perempuan.com)
Klik Di Sini Untuk Kembali Ke Halaman Utama Situs